Chief Eksekutif Officer(CEO) Keke Busana Rendy Saputra tergerak untuk
menuliskan komentar mengenai pengumuman blunder dari pihak Sari Roti
terkait Roti Gratis saat Aksi Bela Islam Jilid 3. (baca: Manajemen Pusat Sari Roti Tak Mau Dikaitkan dengan Aksi Bela Islam 3).
Rendy menilai bahwa pengumuman klarifikasi yang dilakukan manajemen Sari Roti merupakan langkah yang kurang tepat.
Berikut ini masukan lengkap Rendy Saputra terhadap manajemen Sari Roti yang ditulis di akun Facebook pribadinya, selasa(6/12/2016):
==============
Sebagai
insan profesional bisnis, Saya terpanggil untuk memberikan komentar dan
pandangan atas klarifikasi dan pengumuman yang dilakukan oleh pihak Sari
Roti.
Tulisan
berikut adalah sebuah pandangan objektif yang semoga dapat menjadi
bahasan di internal Sari Roti. Sebuah masukan dari customer yang selalu
membeli Roti Cokelat Srikaya dalam setiap perjalanan, ketika mampir di
Indomaret atau Alfamart.
Pengumuman
ini tentu dipicu oleh visual hawker tricycle Sari Roti yang tertempel
"GRATIS" saat aksi 212. Masyarakat tentu mengetahui bahwa pembagian
gratis tersebut dikarenakan seorang pembeli yang memborong semua roti.
Tidak ada sangkaan bahwa Sari Roti menggratiskan. Pedagang pun modalnya
terbatas, dan andaikata si pedagang yang menggratiskan, masyarakat pun
tidak akan pernah berfikir bahwa hal ini adalah keputusan Sari Roti
Pusat.
Jika pun
benar-benar digratiskan dari pusat, tentu tempelan gratisnya sudah
dibranding dengan visual Sari Roti, bukan tempelan kertas biasa.
Maka dari itu, Saya secara pribadi memberi masukan kepada Manajemen Sari Roti untuk :
1. Mengevaluasi tim Public Relation perusahaan.
Menurut
Saya, tindakan klarifikasi ini berlebihan dan berdampak pada turunnya
penjualan Sari Roti di berbagai kanal. Karena tanpa klarifikasi pun,
masyarakat tidak akan mengaitkan brand Sari Roti dengan aksi 212.
Poin-poin
pada klarifikasi juga sangat tendesius. Ada kalimat menjaga kesatuan
NKRI dan kebhinekaan. Seakan-akan aksi 212 tidak mendukung NKRI dan
kebhinekaan. Dan itu pasti menyakitkan kaum muslimin yang ikut Aksi 212.
2. Kembali memperhatikan Muslim Emerging Market sebagai segmen pasar yang perlu diperhatikan.
Persangkaan
baik Saya kepada Sari Roti, Saya yakin bahwa kaum muslimin merupakan
pembeli terbesar Sari Roti. Maka hal-hal sensitif terkait perasaan
market harusnya dihindari guna menjaga keberlangsungan sales.
Ketika McD
sibuk menyediakan musholla disetiap outletnya, ketika mall-mall baru
sangat memperhatikan keneradaan masjid, maka alangkah baiknya Sari Roti
memperhatikan Muslim sebagai emerging market yang memiliki daya beli.
Swadaya
aksi 212 yang akhirnya menggerakan salah satu peserta untuk memborong
seluruh roti di Hawker Tricycle, adalah bukti daya beli kaum muslimin
yang tidak bisa dianggap remeh.
3. Hindarilah isu kontroversial untuk menaikkan Brand.
Jika memang
ada strategi untuk menaikan brand dengan viralitas kontroversi, mohon
difikirkan juga ujungnya, apakah viralitas tersebut akan membawa Sari
Roti kepada Brand Hell atau Brand Heaven.
Sebagai
pelanggan Sari Roti Saya sangat terkejut dengan klarifikasi ini. Ada
kalimat bahwa Sari Roti tidak ingin terlibat pada kegiatan politik,
tetapi klarifikasi ini malah menyeret Sari Roti untuk lebih jauh
terseret pada isu yang tidak seharusnya dimasuki.
4. Meminta maaf kepada kaum muslimin dan mengapresiasi keputusan peserta yang memborong produk Sari Roti.
Sari Roti
merupakan produk menengah yang menyasar segmentasi pasar menengah.
Keputusan seorang peserta Aksi tersebut merupakan keputusan baik bagi
Sari Roti. Di tengah berbagai pilihan roti, customer memilih Sari Roti
dan ini haruslah dihargai dan diapresiasi.
*****
Demikian
komentar dan pendapat ini. Saya sebagai insan bisnis sangat berharap
bahwa Sari Roti dapat melalui masalah ini dengan baik. Semoga pihak
manajemen Sari Roti dapat mencerna postingan Saya dengan baik. Dan
kemudian memutuskan hal terbaik untuk kelangsungan bisnisnya.
Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga manfaat.
Tertanda,
Rendy Saputra
sumber : berita.islamedia.

Tidak ada komentar:
Write komentar